Succinct Monologue

Writing, Sharing, Reading, Being Understanding

Going Extra Miles and Extra Fast with KAI

Credit from Pinterest

Wajah Kereta Api di Indonesia


Menilik tentang dunia perkeretaapian memang memberi kesan tersendiri bagi siapa saja. Tak bisa dipungkiri bahwa perbaikan dan pengembangan terus dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang sampai saat ini masih menjadi operator utama penyelenggara perkeretaapian nasional di Indonesia. Mulai dari pelayanan, fasilitas, hingga infrastruktur seolah terus digenjot demi menjadi moda yang paling unggul bagi pengguna jasa transportasi di negara kita. Bagaimana tidak? Kita semua tahu benar bahwa semakin hari kapasitas layanan jalan yang ada semakin terbatas. Oleh karenanya, kereta api yang notabene memiliki layanan jalur sendiri menjadi semakin unggul dibanding kompetitor jasa transportasi lainnya. Terlebih dengan perkembangan teknologi perkeretaapian yang semakin cepat, aman, hemat energi, dan ramah bagi lingkungan.

Sejalan dengan semakin cerahnya masa depan perkeretaapian di masa mendatang, sudah seharusnya diimbangi pula dengan manfaat yang dapat digunakan secara maksimal tanpa mengesampingkan peningkatan pada aspek keselamatan dan keamanan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan namun hingga kini perkeretaapian di Indonesia dinilai belum mampu memenuhi jumlah pengguna jasa yang ada terutama di hari-hari besar seperti momen mudik lebaran. Selain itu beberapa keluhan juga masih terus-menerus datang seperti keterlambatan jadwal perjalanan kereta, kenaikan harga tiket maupun pembatalan jadwal perjalanan secara tiba-tiba. Oleh karena itu, dalam menanggapi berbagai keluhan yang ada, responsivitas yang baik dari PT.KAI sangat diperlukan, diantaranya responsivitas yang mengindikasikan kinerja maupun budaya PT.KAI yang berupa integritas, profesional, keselamatan, inovasi, dan pelayanan prima.



Langkah Aksi Menata Kereta Api


Jurus pemerintah menata perkeretaapian nasional dituangkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPN). Dokumen ini berisi kebijakan, strategi, dan program yang terstruktur, rinci, dan terjadwal mengenai revitalisasi perkeretaapian nasional, termasuk rancangan investasi dan rencana bisnis perkeretaapian Indonesia 20 tahun kedepan.
Selain tujuan untuk memperlancar jasa transportasi manusia yang merupakan tujuan dari penyelenggaraan perkeretaapian, peluang untuk meningkatkan pangsa pasar kereta api sebagai jasa pengangkut komoditas barang juga masih terbuka lebar terutama di daerah-daerah yang berada di kepulauan Sumatera dan Kalimantan. Hal tersebut juga sejalan dengan salah satu poin yang terdapat dalam RIPN yakni jaringan perkeretaapian nasional direncanakan mencapai 12.100 km yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantar, Sulawesi, dan Papua.


KAI di Masa Mendatang – Going Extra Miles and Extra Fast with KAI


High Speed Railway Taiwan
Credit from Pinterest

Mencontoh dari kesuksesan negara Taiwan yang hanya merupakan sebuah pulau, kini telah memiliki ekonomi yang terintregasi dengan baik berkat kemajuan perkeretaapiannya. High Speed Railway (HSR) milik Taiwan yang tidak kalah dengan rekannya di Eropa maupun Jepang, telah menjadi transportasi yang multimoda dengan kecepatan hingga 300km/jam dan menjadi transportasi yang unggul di negaranya. Pengalaman Taiwan tersebut dalam menghubungkan the island economy-nya dapat dijadikan pelajaran bagi Indonesia dalam pengembangan teknologi perkeretaapian di masa mendatang.

Kenapa harus Taiwan?

Banyak fakta menarik yang bisa kita pelajari dari sana. Pada umunya hampir seluruh negara yang memiliki kereta api super cepat ialah merupakan negara yang perekonomiannya telah maju, mengingat besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membangun kereta api super cepat. Namun perjalanan negara Taiwan yang sebelumnya merupakan negara berkembang inilah yang membuatnya menarik. Berkat kemajuan dunia perkeretaapiannya, Taiwan mampu naik kelas menjadi sebuah negara yang maju.

Untuk Indonesia sendiri, kereta api super cepat mungkin dapat dibangun antara Jakarta dan Surabaya yang merupakan dua pusat perekonomian terbesar di Indonesia. Hal tersebut juga dinilai mampu menjadi nilai tambah untuk rute perjalanan koridor pantai utara Jawa (Pantura) yang masih akrab dengan problem kemacetannya.

Namun demikian, kereta api super cepat bukanlah strategi transportasi yang dapat diadopsi mentah-mentah oleh sebuah negara terlebih negara seperti Indonesia. Karena beda negara, tentu beda kondisinya. Dari segi topografi, geografi, luasan, budaya, dan tentu infrastruktur transportasi eksistingnya. Selain itu, dibutuhkan pula investasi pendidikan masinis dan kru serta sosialisasi bagi pengguna, sehingga akan didapat jawaban tentang benarkah Indonesia membutuhkan kereta api super cepat untuk jalan keluar bagi permasalahan kemacetan di kota-kota dan pendongkrak perekonomian bangsa? Apapun jawabannya, semoga dunia perkeretaapian di Indonesia semakin baik di masa mendatang sehingga siapapun dapat menempuh jarak sejauh mungkin dan secepat mungkin dengan jasa transportasi kereta api Indonesia.

Keputusan untuk menolak atau menunda rencana Kereta Api Super Cepat bukan berarti menentang kemajuan – Gines de Rus, economic from Spanyol





Referensi :
www.repository.ugm.ac.id
Ibid
Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, Kementerian Perhubungan
Transportasi dan Investasi karya Bambang Susantono, Ph.D

Hijrah Kedua

It’s not only a bunch of flower. It is also a full handed of love.


Tampak beberapa orang tengah berbincang di depan ruang sidang kampusku dengan bouquet-bouquet bunga yang indah dan berwarna-warni di tangan mereka. Bukan, bouquet itu bukan untukku dan mereka pun bukan sedang menungguku meski aku juga tengah melaksanakan sidang tugas akhir hari ini. Mungkin mereka sedang menunggu orang lain yang kebetulan jadwal sidangnya sama denganku.

“Ah, betapa bahagianya jika banyak teman-teman datang dan membawakan bouquet bunga di hari aku sidang”batinku dengan mata yang menerawang jauh entah kemana. Mungkin ke masa lalu. Andaian-andaian memang selalu menjadi celah yang syaitan tidak pernah terlewat untuk memanfaatkannya. Daripada menyesali masa lalu, aku hanya menghela nafas, beristighfar..

Seperti yang ingin kukatakan, aku menempuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan kuliah sarjanaku. Bila dibanding dengan teman seangkatanku lainnya, boleh dibilang aku “terlambat lulus”. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena aku sakit dan harus cuti kuliah. Aku terkena maag cukup parah sehingga harus opname beberapa hari di rumah sakit. Setelah keluar opname, tubuhku tak secara langsung dapat pulih kembali sehingga aku membutuhkan waktu cukup lama untuk beristirahat termasuk mengisitirahatkan pikiran dari pelajaran dan tugas-tugas kuliah yang cukup berat.

Aku memulai kuliahku kembali di semester 7 yang ternyata tidaklah semudah yang kubayangkan. Aku tertinggal oleh teman seangkatanku sehingga aku harus mengambil pelajaran kuliah bersama angkatan dibawahku yang hampir tak seorangpun kukenal diantara mereka. Cukup sulit beradaptasi lagi setelah sekian lama tidak ke kampus. Tampak asing dan terasa ada yang ganjil. Ditambah lagi datang musibah-musibah lain yang tak bisa kuceritakan detailnya. Musibah-musibah tersebut seolah bertubi-tubi dan tiada habisnya.

Satu waktu aku merasa selalu bersemangat dengan menganggap bahwa semua ini adalah ujian yang harus aku hadapi agar aku “naik kelas”. Tapi tak jarang semangatku pun melemah dan aku merasa ujian ini sudah di batas kemampuanku. Hidupku yang tampak berjalan baik-baik saja sesungguhnya tidak sedang baik-baik saja. Hal itu membuatku terus-menerus berintrospeksi. Apakah mungkin pola hidup yang kujalani selama ini belum sehat? Ataukah mungkin ibadah yang kulakukan selama ini belum benar? Bahkan beberapa waktu terakhir muncul pertanyaan dalam hatiku, mungkinkah di masa lalu aku pernah melakukan dosa besar sehingga aku sedang mendapatkan ganjarannya sekarang? Entahlah. Hanya saja sebuah hadits terus terngiang dikepalaku, yang mana dikatakan bahwa musibah datang tidak lain adalah karena dosa dan kesalahan terdahulu.

Ya Rabb, bantu aku memaafkan seseorang yang sering berbuat dzalim kepadaku, dia adalah diriku sendiri.

Jika berbicara tentang hijrah, aku bisa katakan bahwa aku pernah melalui hijah pertamaku. Aku yang saat SMA dulu memakai jilbab hanya di sekolah, semenjak kuliah telah kukenakan setiap hari dan kemanapun aku pergi. Jilbabku menutup dada, aku memakai rok panjang dan pakaian longgar. Tentang ibadah, aku menjalankan shalat wajib 5 waktu, aku mengaji Al-Qur’an setiap hari. Aku telah menjadi seseorang yang lebih baik dengan berhijrah dibanding saat aku SMA dulu. Setidaknya aku kini adalah diriku yang mulai berusaha menjaga agar selalu melaksanakan apa-apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang.

Aku telah menjalani pola hidup yang sehat. Aku berusaha taat dalam ibadah dan istiqomah. Aku mengingat-ingat berbagai dosa masa lalu dan beristighfar atas dosa yang mampu kuingat maupun yang tak mampu kuingat. Namun ujian terus saja datang sehingga aku berfikir mungkinkah tanpa sengaja aku telah melakukan dosa yang sulit diampuni. Barangkali tanpa sengaja aku telah menyinggung hati orang lain, atau memakan hak orang lain, atau tak menunaikan hak orang lain atas diriku? Dan berbagai pertanyaan lain yang terus saja muncul. Hingga satu waktu aku teringat pada seorang guru ngajiku. Akupun lantas menghubungi beliau dan bertanya tentang kebimbangan karena ujian-ujian yang menimpaku ini.

Aku menceritakan semuanya dan berkata bahwa aku telah berusaha bertaubat dan beristighfar. Namun entah bagaimana hatiku terasa belum mantap dan masih ada rasa takut akan azab Allah jika ternyata dahulu aku pernah melakukan dosa tanpa sengaja dan dosa tersebut merupakan dosa yang sulit diampuni. Dan barangkali karena itulah saat ini ujian datang padaku silih berganti.

Rasa was-was dan ragu hinggap selama aku menunggu jawaban dari guruku. Antara ingin mendengar dan tidak mendengarnya. Aku takut mendengar jawaban yang tak ingin kudengar. Tapi bagaimanapun aku harus mendengar jawaban guruku demi meluruskan kebimbanganku ini.

Pelan guruku berkata, “Rasa takut dari murka Allah itu jangan pernah dihilangkan, setiap muslim memang harusnya memiliki perasaan tersebut di setiap keadaan. Karena takwa terbagi menjadi dua; yang pertama adalah rasa takut, dan yang kedua adalah selalu berharap kepada-Nya. Tinggal harapanmu kepada Allah itu jangan pernah nanggung. Kau berharap maaf dari Allah dengan husnudzon Allah telah mengabulkan semua harapan tersebut, seimbangkanlah keduanya takutmu dan harapanmu, insyaAllah kau akan menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya.”

Bak menemukan oase di tengah gurun pasir Sahara. Hatiku tersiram oleh sejuknya jawaban dari guruku. Aku mulai memahami bahwa hijrahku barangkali memang tak boleh hanya berhenti disini, di hijrah pertamaku. Bukankah pada dasarnya setiap muslim itu harus berhijrah setiap hari? Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok haruslah lebih baik dari hari ini.

Aku tersadar dari lamunanku. Masih dengan pakaian putih hitam khas baju sidang mahasiswa. 

“Alhamdulillah untuk hari ini...”, ucapku dalam hati.

Aku bersyukur atas izin Allah karena aku telah sampai pada tahap ini. Meski tak bisa dipungkiri aku memiliki kekhawatiran akan masa depan yang entah akan seperti apa. Aku hanya mencoba memantapkan hati bahwa hijrah kedua adalah jalan yang harus aku tempuh. Hijrah yang tentu akan lebih berat dari hijrah pertamaku dulu. Barangkali saja, esok atau lusa aku akan menemukan taqwa sebagai jawaban dari perjalananku. Dan apalah yang sesungguhnya dilihat oleh Allah dari hamba-Nya di dunia ini melainkan hanya dari ketaqwaannya? Maka semoga aku akan sampai pada ketaqwaanku.

Sahabat Saliha, bila saat ini kau juga sedang mengalami berbagai musibah dan ujian, yang entah seberat apa, yang entah akan sebentar atau berlangsung dalam waktu yang lama, maka semoga engkau juga bersabar. Maka semoga kesabaran itu juga yang kan menuntunmu menjadi muslimah yang bertaqwa. Semoga keraguan atas rahmat dan ampunan Allah tak pernah hinggap di hati kita. Dan semoga setiap kisah yang kita lalui dengan mengangumkan akan selalu menjadi cerita inspiratif bagi generasi kita. Dan selalu ingatlah sabda dari junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam ini,


“Ada hamba-hamba yang memiliki kedudukan di surga, tetapi amalannya tidak cukup untuk mengantarkannya kesana, maka Allah senantiasa memberinya ujian kesusahan hingga ia mencapai kedudukan itu” (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Wujud Keadilan

Beberapa waktu lalu di suatu malam saat aku sedang mengkaji kitab Fiqh Islam yang ditulis oleh H. Sulaiman Rasjid, aku sampai pada sebuah sub bab dari bab Thaharah tentang hal-hal yang membatalkan wudhu. Saat itu guru saya menerangkan, bahwa hal-hal yang membatalkan wudhu diantaranya adalah hilangnya akal, meliputi mabuk, gila, juga termasuk “ayan” (atau sering juga disebut epilepsi) –sejenis penyakit yang ketika kambuh, penderita akan mengalami kejang hebat dan hilangnya kesadaran secara penuh.

          Mendengar kata “ayan”, sebuah kejadian seakan langsung berkelebat dalam ingatanku. Saat itu aku sedang berada di tempat mbah kakung di Salatiga. Kemudian datang seorang tetangga depan rumah, laki-laki dan masih muda. Jika aku takar-takar mungkin usianya baru menginjak 20-an keatas. Kata mbah kakung dia memang sering datang untuk sekedar dolan dan berbincang-bincang. Dalam salah satu perbincangannya –aku yang berada disitu tentu tak mungkin untuk tidak mendengar- mengatakan bahwa laki-laki muda tersebut sudah pijat ke tukang urut selama tiga kali dalam sebulan ini. Kemudian ayahku yang juga berada disitu bertanya,
“Memang kerjanya apa kok sampai pijat ke tukang urut sesering itu?”

Laki-laki muda itu hanya menatap ayahku sambil tersenyum tanpa menjawab apa-apa. Lantas ayahku bertanya lagi, “Apa tiap hari nyangkul di sawah?”

Dan lagi-lagi pemuda itu tak menjawab apapun, dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

          Kemudian, setelah cukup lama berada di tempat mbah kakung akhirnya pemuda itu pamit untuk pulang. Dan saat mbah kakung kembali duduk di kursinya, akupun memberanikan diri untuk bertanya, “sebenarnya orang tadi kenapa mbah kakung? Kok sampai sesering itu ke tukang urut? Dan lagi, dia masih semuda itu tapi sudah jadi pengangguran. Enggak sekolah enggak juga bekerja, padahal dikaruniai fisik sempurna”

          Lantas mbah kakung menjawab, “Dia itu sebenarnya punya sakit ‘ayan’. Dia dulu sekolah, tapi hanya sampai kelas 6 SD. Dia takut kalau sewaktu-waktu sakitnya kambuh, makanya nggak mau ngelanjutin sekolah. Akhirnya kerjaannya ya dirumah saja karena memang tidak boleh kerja sama ibunya. Dan dulu kakaknya yang juga sakit ayan sudah meninggal karena saat kambuh dia jatuh ke api terus terbakar, mungkin ibunya takut kalau hal tersebut akan terjadi juga pada anaknya yang ini. Nah, masalah sering ke tukang urut itu, dia merasa frekuensi kambuh sakitnya jadi berkurang jika dia rutin mengurut badannya.”

***

          Sejenak aku tersadar sebelum akhirnya guruku akan melanjutkan materi fiqh ke sub bab selanjutnya. Maka sebelum itu, segera akupun bertanya terkait seseorang yang ditakdirkan sakit “ayan” dengan mengawalinya dari cerita saat berada di tempat mbah kakung. Setelah cerita selesai, aku berkata…
“Mungkin memang benar sudah menjadi takdirnya untuk memiliki penyakit seperti itu. Tapi rasanya betapa kasihan saat aku membayangkan dia harus berhenti sekolah, tidak bisa bekerja, dan seterusnya hanya teronggok dirumah. Pasti membosankan. Sementara banyak orang bisa hidup dengan normalnya, menghadapi masalah lantas menyelesaikannya, menaikkan derajat diri, mengukir prestasi, bahkan menantang dunia. Alangkah tidak adil sepertinya. Tapi sayangnya, setidak adil apapun kita merasa, Allah tetaplah Maha Adil terhadap setiap takdir yang telah ditetapkan-Nya”

          Jauh dalam benakku, sebenarnya aku terpikir, mungkin saja nasehat ini yang sedang berlaku untuk pemuda itu, bahwasannya, Rasulullah bersabda, “Ada hamba-hamba yang memiliki kedudukan di surga, tetapi amalannya tidak cukup untuk mengantarkannya ke sana, maka Allah senantiasa memberinya ujian kesusahan hingga ia mencapai kedudukan itu." (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Di sela-sela kajian, kami memang sering membahas hal-hal yang terkadang diluar topic seperti sekarang. Juga terkadang saling bertukar pengalaman yang kurasa sangat bisa memperkaya wawasan. Seperti pepatah mengatakan, “kenapa kita harus belajar dari pengalaman orang lain? Sebab kita tidak akan punya cukup waktu dalam hidup untuk mengalami semuanya sendirian”

Setelah mendengar semua ceritaku, guruku pun memberi jawaban, “Ohh.. iya, saya mengerti maksud kamu. Tapi sekarang coba saya tanya, adil itu apa?”

“Adil itu.. membagi sama rata. Eh, iya bukan ya?” kataku ragu-ragu.

Guruku lantas tersenyum dan membenarkan jawabanku, “Adil itu… menempatkan sesuatu pada tempatnya. Nah, menempatkan sesuatu pada tempatnya itu bukan berarti harus sama semua. Misal, bagaimana kalau semua orang jadi PNS? Bagaimana kalau semua orang kaya raya? Pasti dunia ini tidak akan bisa berjalan kan? Bukan berarti orang yang lebih kekurangan dari kita itu tidak bahagia hidupnya, bisa jadi kita yang berkecukupan justru tidak lebih bahagia dari mereka yang kekurangan. Semuanya pasti sudah diatur secara adil meskipun tidak semuanya bisa kita lihat wujud keadilannya”

          Semua yang dikatakan guruku memang benar. Tapi sebenarnya, tidak aku pungkiri bahwa sebelum ini aku juga pernah merasa seperti dalam sebuah ketidak adilan. Saat aku sakit dan harus cuti kuliah. Dimana aku merasa sangat sedih karena cuti itu tentu akan menunda kelulusanku. Dan jika kelulusanku tertunda, terus kapan aku mau menik…. (halah, skip..skip!). Dan setelah kembalinya aku ke  perkuliahan, akupun harus belajar tanpa teman-teman seangkatan karena mereka telah terlebih dulu menyelesaikan semuanya. Kemudian kembali aku juga harus menyesuaikan kelas bersama orang-orang yang belum begitu kukenal, yakni adik angkatanku. Terlebih jika nanti ada yang akan melihatku dengan tatapan rendah karena ketertinggalanku ini. Betapa pasti terasa sangat sulit untuk menjalani semuanya. (Nah..nah.. ini adalah contoh dari rasa takut yang mengada-ada. Jangan ditiru hehe)

          Tapi seiring berjalannya waktu, setelah aku mulai bisa menerima bahwa mungkin memang jalannya harus seperti ini, aku mulai bisa bersahabat dengan keadaan. Toh kita memang tidak bisa memilih takdir kita sekarang ataupun akan seperti apa takdir kita nanti. Sebab ia sudah menjadi harga mati. Tapi meskipun ia harga mati, kita tetap diberi kewenangan untuk membayar harga mati itu dengan "cara kita masing-masing". Yang pasti, telah datang seorang utusan yang menyampaikan kabar gembira pada umatnya, bahwa setiap takdir yang menimpa mereka adalah BAIK. Jika mereka diberi nikmat, mereka bersyukur. Dan bila ditimpa musibah, maka tiadalah sikap yang lebih baik selain daripada bersabar (cieee.. is-ti-mewa!)

  Hingga akhirnya… banyak sekali hal, banyak sekali pengalaman, juga pelajaran hidup yang kudapat selama aku cuti kuliah, yang mungkin tidak akan bisa aku dapat andai aku masih tersibukkan dengan rutinitas perkuliahan. Aku mulai bisa menghargai hal-hal yang dulu tampak tak berharga. Kesehatan misalnya, bagaimana tidak? untuk kembali menjadi sehat seperti ini, berpuluh-puluh juta harus orang tuaku keluarkan. Berbulan-bulan waktu juga harus mereka luangkan hanya untuk merawatku agar kembali sehat seperti sekarang. Dan selain itu, akhirnya aku bisa mentertawai hal-hal yang saat aku kuliah dulu, entah kenapa rasanya tak lucu tapi sekarang bisa membuatku tertawa dengan ikhlas. Sebagai misal saat aku menonton adegan dalam film 3 Idiots dimana Rancho menulis kata “Prerajulation” dan “Farhanitrate”. Atau saat adegan dimana seorang dosen sedang mengajar perkuliahan tentang mesin. Justru anehnya, semua itu tampak lucu setelah aku menonton untuk yang kesekian kalinya.

  Yah, jika teringat tentang cuti kuliah, rasa kecewa pasti selalu ada. Tapi mau bagaimana lagi, semua tetap berjalan, harus dijalani.. sebab waktu tiada pernah mau tahu, dia tetap berlalu membawa cerita baru, membawa permasalahan-permasalahan yang baru. Dan jika hidup ini memanglah medan ujian. Maka hanya kesabaran yang dapat menuntun kemenangan di pertempuran (mangatssss!)

  Pada intinya, mungkin saja keadilan bagi pemuda yang sebelumnya aku ceritakan itu karena Allah hendak menyampaikan ia pada kedudukannya yang pantas di surga dengan ujian sakit yang sedemikian rupa. Sedang aku.. rasanya aku mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin nyaris sama dengan apa yang didapat Raju setelah ia mencoba bunuh diri karena hendak di DO dari kampus. Sesuatu yang mungkin memang adil dan pantas untuk dibayar dengan harga sebuah cuti kuliah.

Keadilan bagi setiap orang itu tampak dalam wujud yang berbeda-beda, bahwa adil itu... memang tidaklah selalu berarti sama rata. Misal saja dalam rupa kekayaan…
Sebab kekayaan bagi mereka yang sakit adalah kesehatan, bukan melimpahnya harta.
Sebab kekayaan bagi mereka yang mandul adalah seorang keturunan, bukan emas, intan, maupun berlian.
Sebab kekayaan bagi mereka yang sebatangkara adalah sebuah keluarga, bukan istana yang megah lagi besar pilar-pilarnya.

Cara Menetukan Judul SKRIPSI

Apa itu SKRIPSI?

Banyak mahasiswa yang menganggap bahwa skripsi adalah sebuah momok menakutkan untuk dihadapi. Saya sendiri pun sempat memiliki pemikiran seperti itu. Jauh-jauh hari sebelum saya berada pada tahap memulai skripsi, saya sudah dihantui berbagai kekhawatiran seperti nanti mau ambil skripsi apa ya? Nanti dapet dosbingnya siapa ya? Dan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang nggak ada ujungnya.

Tapi untungnya saya sudah pernah mendapatkan pengalaman yang sama saat Kerja Praktek dulu. Banyak sekali kekhawatiran yang juga datang. Seperti nanti KP gimana ya? KP dimana ya? KP sama siapa ya? Dan lain-lain deh.

Tapi sekarang setelah semua masa itu terlewati, jika dipikir-pikir malah lucu juga. Saya KP sendirian (nggak ada teman barengan di tempat KP saya), lokasi KP di ujung Pulau Jawa, belum kenal siapa-siapa. Tapi setelah dijalani ternyata ya nggak kenapa-kenapa, bahkan rasanya jauh lebih menyenangkan dari yang saya kira, saya mendapatkan kawan-kawan baru, keluarga baru, pengalaman survive dan ngebolang sendirian di tempat yang masih asing buat saya. Yah.. pada intinya seperti yang dikatakan Nati Sajidah, 
“Seringkali pertanyaan-pertanyaan kehidupan tak bertemu dengan jawaban, namun berupa perjalanan yang harus ditempuh, tanpa diberitahu akan seberapa jauh, atau berapa peluh yang akan jatuh, kita tak pernah tahu, kecuali dengan terus menempuh jalan itu.

SKRIPSI juga sama. Untuk tahu, kita harus menjalaninya dan mengesampingkan semua momok-momok kekhawatiran yang menghantui. 
Karena seringkali juga, ketakutan dan kekhawatiran itu datang dengan wujud seperti harimau, padahal jika kita menghadapinya, dia tak lebih besar dari seekor semut saja.

Dan jika kalian tetap kekeuh bertanya padaku apa itu SKRIPSI.. jawabanku adalah MULAI dan jalani saja.

Menentukan Judul SKRIPSI

Menentukan judul skripsi bukanlah sebuah perkara sulit, tapi juga nggak berarti mudah. Oleh karena itulah saya disini untung sharing tentang cara menentukan judul skripsi berdasarkan “pengalaman saya”.

1. Tentukan Minat

Bagi sebagian orang, menentukan minat pun bahkan juga bukan perkara yang mudah. Kadang kita sama sekali tidak memiliki gambaran tentang pilihan-pilihan topik skripsi sehingga untuk menentukan minat akan menjadi hal yang cukup menyulitkan. Misalnya dalam jurusan kuliahku, jenis skripsi terbagi menjadi 2 yaitu Penelitian dan Perencanaan. Penelitian terbagi menjadi beberapa topik seperti Air Limbah, Air Bersih, PKL (Pengelolaan Kualitas Lingkungan), Kebisingan, Udara, Sampah (composting), Teknologi Membran, dll. Perencanaan pun demikian, terbagi menjadi beberapa topik seperti SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum), Drainase, Plambing, PTPA (Perencanaan Tempat Pengolahan Akhir), Manajemen Persampahan, dll.
Lihat kan betapa banyaknya topik yang ada. Nah sampai disini saya akan menyarankan teman-teman yang masih bingung dengan minatnya untuk membuat list topik-topik skripsi yang ada menjadi sebuah tulisan.

2. Pertimbangan Budget

Skripsi memerlukan biaya. Baik penelitian maupun perencanaan. Bahkan tidak jarang biaya yang dibutuhkan juga tinggi. Oleh karena itu sebelum menentukan topik skripsi akan lebih baik jika menentukan topik dengan mempertimbangkan budget yang ada. Jika sekiranya budget yang ada berkecukupan maka hal tersebut tidak akan mempersempit topik-topik skripsi yang bisa diambil. Namun jika budget yang ada hanya sedikit atau bahkan belum ada, teman-teman bisa mempertimbangkan untuk ikut proyek atau penelitian dari dosen, sehingga insyaAllah budget yang dikeluarkan bisa terminimalisir. Namun konsekuensinya, teman-teman harus mengambil judul skripsi sesuai proyek atau penelitian dosen yang teman-teman ikuti

3. Pertimbangan Waktu.

Setiap mahasiswa pasti menginginkan skripsi yang selesai cepat. Benarkah?
Saya pikir tidak semua demikian. Saya melihat ada beberapa orang yang menikmati skripsinya dan tidak merasa harus dikejar oleh waktu. Kecuali bila di jurusan kuliah teman-teman juga mensyaratkan waktu penyelesaian skripsi yang cukup singkat sehingga mau tidak mau akan dikejar oleh waktu. Oleh karena itu pertimbangan waktu menjadi sangat penting dalam menentukan topik skripsi. Misal bila teman-teman menentukan pilihan pada SKRIPSI Topik A, kemudian dengan mempertimbangkan kemampuan diri sendiri, apakah akan mampu menyeselesaikan skripsi tersebut dalam waktu sekian bulan sesuai yang ditargetkan? Dan jawaban tersebut lah yang selanjutnya akan membimbing untuk menentukan topik skripsi teman-teman

4. Mempertimbangkan dosen

Dalam beberapa kasus, kita tidak diperkenankan memilih siapa dosen yang akan membimbing kita. Hal tersebut dapat berlaku sebab dosen pembimbing akan ditentukan secara acak oleh admin kampus. Dan bila teman-teman berada dalam kondisi demikian artinya point keempat ini tidak berlaku untuk teman-teman dan boleh di skip saja. Namun bila sekiranya teman-teman memilih skripsi untuk ikut proyek/penelitian dosen, maka teman-teman akan mendapatkan dosbing sesuai dosen yang teman-teman ikuti proyek/penelitiannya tersebut. Oleh sebab itu, hal seperti mempertimbangkan dosen ini bisa teman-teman lakukan sebelum memilih untuk ikut proyek/penelitiannya.
Nah, mempertimbangkan dosen itu maksudnya seperti apa sih?
Maksudnya adalah mempertimbangkan hal-hal seperti chemistry, interest, tingkat kesibukan dosen tersebut, dan hal-hal lain sesuai dengan kondisi teman-teman.

5. Mencari Inspirasi Judul

Semua point yang telah saya sampaikan dari point 1-4 adalah tahapan-tahapan untuk menentukan topik. Bila topik sudah didapat, maka hal selanjutnya yang harus teman-teman lakukan adalah menentukan judul. Sekali lagi, menentukan judul juga bukan perkara mudah, tapi juga nggak sulit-sulit banget. Yang pertama-tama harus dilakukan adalah membaca judul-judul skripsi lain yang topiknya sama dengan topik skirpsi kita. Misal untuk skripsi saya, saya memilih topik “Teknologi Membran”. Maka saya akan membaca semua judul-judul skripsi tentang teknologi membran. Iya, dibaca saja judulnya dulu, isinya nanti.

6. Menentukan Variabel Judul

Pada point ini saya akan langsung memberi contoh.
Saat saya telah membaca banyak sekali judul skripsi tentang “Teknologi Membran”, disana saya mendapati bahwa sebelum saya menentukan jenis membran yang akan digunakan serta parameter apa yang akan saya sisihkan, saya harus menentukan jenis air atau limbah yang akan diolah dan memastikan bahwa belum ada penelitian yang sama tentang limbah tersebut sebelumnya.
Sementara setelah saya menentukan limbah minyak kayu putih sebagai limbah yang akan saya olah, saya membaca banyak literature tentang limbah minyak kayu putih beserta karakteristik limbah tersebut sehingga saya akan dapat menentukan parameter apa yang disisihkan dan jenis membrane apa yang cocok untuk menyisihkan parameter tersebut. Dan begitulah akhirnya hingga saya mendapatkan judul skripsi saya sebagai “Penyisihan Kandungan Nitrat dan COD dalam Air Limbah Industri Minyak Kayu Putih (Melaleuca Leucadendra) Menggunakan Teknologi Membran Nanofiltrasi)




Demikian sharing dari saya. Seperti yang saya bilang dari awal bahwa saya akan sharing hanya berdasarkan pengalaman saya sendiri sehingga bila ada yang bertanya, “Bagaimana bila skripsinya tentang perencanaan?”. Maka jawabannya adalah “saya tidak tahu”. Bisajadi cukup dengan menyesuaikan alurnya seperti yang saya jabarkan atau bisajadi juga alur penentuan judulnya akan berbeda jauh sehingga saran yang bisa saya berikan adalah banyak-banyaklah tanya kepada teman atau senior yang sudah pernah membuat SKRIPSI tentang perencanaan. Semoga bermanfaat dan semoga sukses skripsinya ^^

Materi Kuliah Teknik Lingkungan

Materi kuliah Teknik Lingkungan yang saya share disini adalah materi-materi yang saya dapatkan dari kuliah saya di TL UNDIP yang sekiranya masih saya miliki dan saya simpan. Oleh karenanya materi ini tidak sepenuhnya dapat mewakili keseluruhan materi yang diberikan di perkuliahan Teknik Lingkungan Undip.

Saya juga tidak dapat menjamin bahwa matesi yang saya share disini masih relevan hingga sekarang karena beberapa adalah materi yang mungkin saya simpan sudah sejak lama. Sedangkan setiap tahunnya dosen pasti akan mengembangkan materi berdasarkan kondisi yang paling terkini dan peraturan-peraturan terbaru atau yang telah diperbaharui yang berhubungan dengan lingkungan.

Saya berharap semoga apa yang saya share dapat menjadi manfaat dan rujukan bagi siapapun yang ingin belajar mengenai Teknik Lingkungan. Dan siapapun dipersilahkan untuk menggunakan materi yang saya share dengan sebaik-baiknya dan tanpa lupa mencantumkan sumber serta nama-nama dosen yang materinya Anda pakai sebagai kutipan, rujukan, referensi sumber dsb. Terimakasih

1. PENGANTAR ILMU REKAYASA LINGKUNGAN

2. FISIKA LINGKUNGAN

3. KIMIA LINGKUNGAN

4. MENGGAMBAR TEKNIK

6. MEKANIKA REKAYASA

7. MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

8. METODOLOGI RISET

9. MEKANIKA FLUIDA

10. TERMODINAMIKA

11. STATISTIKA TEKNIK LINGKUNGAN

12. MEKANIKA TANAH DAN GEOTEKNIK

13. PENGETAHUAN TEKNIK STRUKTUR

14. HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI

15. LABORATORIUM LINGKUNGAN

16. SATUAN OPERASI

17. PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

18. SATUAN PROSES

19. PERPETAAN

20. PERMODELAN DAN PEMROGRAMAN

21. PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

22. SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

23. PLUMBING

24. PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

25. MANAJEMEN PERSAMPAHAN

26. EKONOMI LINGKUNGAN

27. MANAJEMEN PROYEK

28. PENGELOLAAN SAMPAH

29. PENYALURAN AIR BUANGAN

30. KEBIJAKAN DAN HUKUM LINGKUNGAN

31. PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM

32. PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

33. DRAINASE LINGKUNGAN

34. SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

35. PENGELOLAAN BUANGAN INDUSTRI

36. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

37. PERENCANAAN TEMPAT PENGOLAHAN AKHIR SAMPAH

38. PEMANTAUAN DAN ANALISA KUALITAS UDARA

39. TEKNOLOGI BERSIH DAN MINIMASI LIMBAH

40. PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

41. DOKUMEN LINGKUNGAN

42. SANITASI MASYARAKAT

43. EKOTOKSIKOLOGI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

44. MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA PERKOTAAN

45. PENCEMARAN UDARA DALAM RUANG

46. ENERGI TERBARUKAN DAN EFISIENSI ENERGI

47. TEKNOLOGI MEMBRAN

48. BIOTEKNOLOGI

49. PENGOLAHAN LUMPUR

50. PENGELOLAAN DAERAH PESISIR

51. MANAJEMEN LINGKUNGAN PERKOTAAN

52. PENGENDALIAN BISING DAN BAU


Dia Bukan Dilanku, Karena Aku Bukanlah Milea (Ch.1)

Semarang, bulan November 2010.

Cuaca belum begitu sering hujan di bulan itu, mungkin karena masih awal November. Namun seperti yang kita tahu iklim mulai sulit untuk di prediksi, mungkin semenjak isu global warming atau apalah itu. Seringkali siang begitu terik, namun sore atau malam hujan turun deras sekali.

Hari itu adalah Hari Sabtu. Seperti hari-hari Sabtu-ku yang biasanya, jam 2 adalah jadwalku untuk pulang kerumah.

Ah, hampir saja lupa. Aku belum memperkenalkan diriku, ya?
Aku adalah Setiti, harusnya nama panggilanku adalah Titi. Sayangnya, itu hanya berlaku saat aku masih kecil. Semenjak SMA teman-temanku mulai memiliki panggilan-panggilan unik untukku. Misalnya: Tit, Setit, Stich, dll.

Awalnya aku merasa asing setiap mendengar mereka memanggilku seperti itu, tapi lama-lama terbiasa juga. Malah membuatku merasa lebih mudah untuk akrab dengan mereka karena mereka membuat nama panggilan khusus untukku.

Hanya saja aku ada permintaan, saat memanggilku dengan sebutan "Tit", jangan pernah mengulang-ulangnya sekalipun aku tidak mendengar saat kau panggil. Karena itu akan tidak baik untuk mulutmu dan telinga orang lain. Percayalah.

Sedangkan nama lengkapku adalah Setiti Mulya.....ningsih.

Tak banyak yang tahu kalau di belakang nama Setiti Mulya masih ada Ningsih-nya. Habisnya, abangku suka mengganti nama Ningsih itu dengan Ningsihku~ Ningsihku~ Kuningsih~

Hingga akhirnya dia selalu memanggilku dengan nama Kuning, sampai saat ini. Padahal aku, bukan benci sih, hanya agak anti sama warna kuning. Jadinya kan kesel kalo malah dipanggil Kuning. Nggak tahu gitu kenapa, kurang suka aja. Dan itulah yang akhirnya membuatku memilih untuk menyembunyikan nama Ningsih-ku. Lagian, aku juga tidak begitu suka orang tahu banyak tentang diriku, meski hanya tentang nama lengkapku. Agaknya, itu kurang baik untuk privasiku kedepannya. Hmm

Aku terlahir di sebuah Kabupaten kecil di Jawa Tengah, namanya Kabupaten Grobogan, Kota nya sih ikut sama Kota Purwodadi meskipun rumahku ke Kota Purwodadi jaraknya jauh sekali. Pasti banyak dari kalian yang nggak tahu Kabupaten Grobogan, kan? Nggak apa-apa.

Jika kalian tahu tentang stasiun kereta api pertama yang pernah dibangun di negara kita di jaman penjajahan Belanda dulu, namanya adalah Stasiun Tanggungharjo, disitulah aku sering jalan-jalan saat sore. Bisa karena pengen lihat matahari tenggelam, atau memang karena lagi kurang kerjaan.

Di usia bangunan khas Belanda yang sudah tua, stasiun tersebut masih beroperasi sampai sekarang. Meski pernah satu waktu ada pihak yang berniat menjadikannya musium, namun kepala stasiun menolaknya. Sehingga sampai saat ini siapapun masih dapat menaiki kereta melalui Stasiun Tanggungharjo walaupun hanya terbatas untuk beberapa stasiun tujuan, dan tentu saja harus punya uang untuk membeli tiketnya, ya.

Tak jauh dari stasiun, jika kamu mau keliling sebentar, kamu akan melihat banyak rumah-rumah. Ya, benar, di salah satu rumah itulah aku lahir dan dibesarkan. Maksudku, aku hanya sedang berusaha menjelaskan dimana tempat aku tinggal, di Kabupaten Grobogan, dengan mengaitkannya pada tempat yang lebih mudah jika kalian ingin menemukannya di google map atau peta.

Selanjutnya, bagaimana seorang anak dari desa sepertiku bisa nyasar ke salah satu SMA, yang katanya, adalah SMA elit di Kota Semarang? Ceritanya panjang dan nggak penuh perjuangan juga, sih. Mungkin lain kali saja kuceritakan, tentu jika ada kesempatan dan aku tidak malas untuk menceritakannya.

Yang saat ini lebih penting untuk kusampaikan adalah, pada waktu bagian aku merujuk pada kisah yang kutulis ini sedang terjadi, aku sedang duduk di kelas 3 SMA. Yang artinya, aku sudah hampir 3 tahun di Semarang. Menjadi anak kos-kosan yang setiap Sabtu sore pulang kerumah dan kembali ke Semarang di Senin pagi setelah subuhan. Oleh karena itulah, jangan tanya kenapa setiap Hari Senin aku sering tidur, atau paling tidak, sering mengantuk di kelas.

Sebelum kulanjutkan ceritanya, aku ingin minta maaf karena di cerita ini aku harus mengganti nama beberapa orang demi menjaga privasi dan identitas mereka, juga beberapa tempat demi menghindari timbulnya persoalan atau masalah kedepannya.

Aku juga ingin menegaskan bahwa aku tidak memiliki maksud apapun lebih-lebih maksud negatif sekalipun dengan mengulik kembali kisah SMA ku ini. Aku hanya barusaja selesai membaca novel Pidi Baiq yang membuatku kembali teringat masa-masa SMA ku. Masa yang indah bagiku, versiku, dari sudut pandangku. Masa yang sungguh ingin aku ceritakan, sebelum kelak aku menua dan benar-benar akan tidak mampu untuk mengingatnya.

Pic From Pinterest

Jadi, bila kau adalah teman SMA ku, lebih-lebih teman sekelasku di kelas 3, kau pasti akan langsung tahu siapa orang-orang yang terlibat dalam cerita ini meski aku sudah menggunakan nama-nama samaran pada mereka.

Barangkali juga, kaupun tidak pernah menyangka aku memiliki kisah seperti ini karena begitu pandainya, aku dimasa itu, dalam menyembunyikan dan menutupi semuanya. Sehingga satu waktu ketika kelak kita berjumpa lagi, teman-teman SMA ku yang kini sangat aku rindukan, mungkin dalam sebuah reuni atau acara apapun itu, silahkan untuk tidak mengungkit cerita ini.

Ini hanya tentang kisah masa lalu, yang menyenangkan untuk dikenang, yang terlalu manis untuk dilupakan, yang teramat berharga dan sayang bila harus dibuang begitu saja. Bukankah kaupun juga memiliki masa-masa indah SMA versimu? Yang bahkan mungkin karena terlalu indahnya, kau sampai tidak berani menceritakannya pada orang terkasihmu sekarang karena takut merusak kebahagiaan yang sudah kalian bangun? Itulah maksudku. Semoga kau paham mengapa aku memintamu untuk tidak menyinggungnya diluar tulisanku. 

Mari kita mulai ceritanya.

"Ti, jam 2 kujemput ya"
Kubaca SMS dari Mbak Alfiani.

"Oke", balasku.

Mbak Alfi adalah teman seperjuanganku dari desa untuk sekolah ke SMA di Kota Semarang ini. Masih ada juga Kusuma dan Ngesti. Awalnya kami satu kosan, namun Mbak Alfi memilih pindah entah kenapa. Padahal aku, Kusuma, dan Ngesti belum pernah pindah kosan sekalipun selama tiga tahun di Semarang. Namun Mbak Alfi sudah berkali-kali. Mungkin dia memang lebih suka hidup menjadi siswi SMA nomaden daripada harus menetap di satu kosan. Pikirku saat itu, sih.

Dia juga bukan kakak kelasku. Meskipun aku memanggilnya "Mbak", kami adalah seangkatan. Mungkin karena udah kebiasaan dari SMP begitu. Jadi masih kebawa terus.

Pukul 2 lebih, aku lupa lebih berapa, Mbak Alfi menjemputku bersama motor jupiter biru dengan jeruji orange khas miliknya. Aku memang lebih suka nebeng dia daripada harus bawa motor sendiri saat pulkam (pulang kampung alias balik rumah). Selain mengurangi polusi, hemat bensin, kami juga jadi nggak capek karna nyetirnya bisa gantian. Bisa mengurangi kemacetan juga sih meskipun hanya satu space motor. Hahaha

"Ti, kita mampir kerumah Riska dulu ya?"

"Ngapain, Mbak?", tanyaku.

"Jenguk Kinara. Dia habis kecelakaan"

"Innalillahi. Iyadeh. Sama Riska aja?"

"Nggak, sama temen-temen IPA 5 yg lain". Katanya.

Maksudnya adalah teman-teman Mbak Alfi saat kelas 11 IPA 5 dulu. Karena Kinara juga dulunya dari 11 IPA 5.

"Yah.. nggak enak dong aku, Mbak. Aku kan bukan dari IPA 5"

"Gak apa-apa. Cuma beberapa anak aja, kok"

Kupikir, yasudahlah. Kan aku juga temenan sama Kinara. Jadi ikutan jenguk aja. Kan, sekalian aku mau pulkam.

Setelah sampai di rumah Riska yang berada di kompleks dekat SMA 2 Semarang, aku sudah melihat beberapa orang berkumpul disana. Tentunya, anak-anak yang dulunya dari kelas 11 IPA 5. Lalu datanglah teman sekelasku yang sekarang, Fahri dan Dilan. Ah, aku baru tahu kalau ternyata mereka teman sekelas Mbak Alfi juga waktu di IPA 5.

"Eh kok ada Setiti?", Tanya Riska. Sambil menyuguhkan kami beberapa aqua gelas dan camilan.

"Iyanih. Soalnya sekalian mau pulkam sama Mbak Alfi. Gapapa kan? Hehehe", kataku.

Riska dan yang lainnya pun tersenyum ramah, mengiyakan.

Setelah dirasa semua yang ingin ikut menjenguk Kinara sudah berkumpul. Kami berangkat dari rumah Riska ke rumah Kinara. Saat itulah aku baru mengerti kenapa kami berkumpulnya di rumah Riska. Karena yang paling dekat kerumah Kinara.

Dari rumah Riska kami melaju melewati jalan di depan SMA 2 Semarang. Setelah sampai di ujung gang, kami harus menyeberangi jalan besar yakni Jalan Raya Majapahit untuk bisa kerumah Kinara.

Fahri dan Dilan berada paling depan, siap untuk menyeberang. Sedangkan aku yang saat itu membonceng Mbak Alfi, sibuk membuka HP ku, siapa tahu ada SMS dari bapak yang bertanya aku sudah sampai dimana. Tapi ternyata tidak ada. Ah, aku lupa bapak ku kan memang begitu. Jika dirasa anak perempuannya ini belum kesorean untuk belum tiba dirumah, tidak akan ada SMS yang masuk dari bapak untukku.

Aku memasukkan kembali HP ku ke dalam tas. Saat pandanganku sudah teralih kedepan, tiba-tiba saja aku langsung melihat motor yang dinaiki Fahri dan Dilan terlempar cukup keras ke jalanan. Aku betul-betul tidak memahami apa yang barusan kulihat. Apa mungkin mataku sedang tidak waras? Tapi selain yang tadi kulihat, aku juga mendengar suara tumbukan cukup keras dari arah yang sama.
Semua orang disekelilingku shock. Aku jadi ikut-ikutan

Mataku terus mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi. Meski diriku diliputi rasa panik, namun hatiku terus berdoa semoga semua baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian ada yang memberi komando agar kami menyeberang. Sehingga akhirnya aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sambil Mbak Alfi membawa motor menyeberangi Jalan Raya Majapahit.

Rupanya, saat Dilan dan Fahri akan menyeberang, Dilan yang duduk di depan menyetir motornya sedang menengok ke kiri untuk melihat apakah ada motor melaju dari arah sana. Saat itulah melaju juga sebuah motor yang dikendarai oleh pasangan separuh baya yang datang dari arah kanan dan menabraknya.

Melihat kerusakan kedua motor, aku langsung mencari-cari sosok kedua temanku itu dan dua orang paruh baya yang menabraknya. Syukurlah, mereka tidak terlalu parah hingga harus dirawat di rumah sakit.

Kukira, urusan akan bisa selesai dengan hanya kedua belah pihak mau untuk saling memaklumi dan memaafkan. Kedua temanku begitu, tapi sialnya, tidak untuk dua orang paruh baya tadi.

Mereka bilang, temanku yang menyeberang sembarangan sehingga harus mengganti rugi. Jika tidak, mari selesaikan di kantor polisi, katanya.

Fahri berjalan dengan menenteng helm yang tadi dipakainya ke arah rombongan kami.

"Kalian duluan aja ke rumah Kinara. Nanti aku sama Dilan nyusul", kata Fahri.

"Mana bisa begitu. Kita kan bareng-bareng. Kita pasti bantu sampai masalahnya selesai", jika aku tidak salah ingat, Riska yang mengatakan ini waktu itu.

Kulihat Dilan sedang menangani dua orang paruh baya tadi. Sikapnya tetap tenang. Justru dia masih sempat menoleh ke arah kami, tersenyum, sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja sehingga kami tak perlu mencemaskannya.

Aku hampir-hampir tidak percaya. Sungguhkah yang kulihat tadi adalah Dilan. Anak yang tidak pernah serius di kelas itu? Tapi kini dia bisa tetap kalem menghadapi situasi seperti ini? Jika benar, maka dia baru saja berhasil menunjukkan sisi lain dirinya yang langsung membuatku kagum seketika itu.

"Itu permintaan Dilan. Dia bisa menyelesaikannya di kantor polisi. Jadi kalian duluan saja", kata Fahri lagi.

Aku memperhatikan Dilan yang berupaya meminta maaf kepada dua orang paruh baya tadi. Dia mengaku salah karena belum sempat menengok ke kanan saat akan menyeberang, tapi dia juga menjelaskan bahwa bukan hanya dirinya yang salah pada peristiwa itu. Dia meminta maaf lebih dulu sebagai sikap menghormati yang lebih tua.

Dua orang paruh baya tadi tetap terlihat rumit untuk diajak berkompromi. Aku tidak mengerti apa yang selanjutnya terjadi karena rombongan kami setuju untuk lebih dulu berangkat ke rumah Kinara dan membiarkan Dilan yang mengurus semuanya. Yah, tentu saja ada yang lebih sulit untuk kumengerti dari itu semua, yakni sosok lain Dilan yang baru kulihat hari ini.

Sempat terpikir olehku mungkin saja tadi kepala Dilan terbentur saat dia bertabrakan. Makanya dia jadi seperti bukan Dilan yang selama ini kukenal. Maksudku, yang baru beberapa bulan ini kukenal. Karena aku memang baru mengenal Dilan saat pertama masuk kelas 3. Tepatnya, bulan Juli di tahun yang sama.

Akhirnya rombongan kami melaju ke rumah Kinara setelah menyetujui permintaan Fahri dan Dilan. Aku bisa mengerti, sih. Bukan Dilan tidak mau kami membantunya. Tapi sebagian besar dari rombongan kami saat itu adalah perempuan. Jadi kau juga pasti mengerti mengapa Dilan menyuruh kami berangkat duluan. Lagi pula, jika rombongan kami yang jumlahnya sekitar belasan orang itu ikut ke kantor polisi, bukannya nanti malah dikira mau tawuran?

Sesampainya di rumah Kinara, kami disambut oleh Kinara dan keluarganya yang seolah sudah tahu bahwa hari itu kami akan datang. Mungkin salah seorang dari kami memang sudah ada yang memberitahu Kinara sebelumnya.

Kulihat kondisi Kinara cukup parah. Kira-kira ada luka di lutut dan siku kanannya. Luka yang di lutut membuat Kinara kesulitan berjalan sehingga dia hanya duduk saja selama kami disana.

Rasanya rumah Kinara yang tadinya hening seketika menjadi ramai dan jauh lebih hidup karena kedatangan kami. Ya, tentu saja begitu. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, rombongan kami sebagain besar adalah perempuan. Haha

Semua yang ada disana bercerita tentang apapun untuk menghibur Kinara. Ohya, sebelumnya kami juga telah menyerahkan beberapa buah tangan kepada Kinara. Buah tangan itu sepertinya sudah disiapkan di rumah Riska sebelum aku dan Mbak Alfi datang.

Singkat cerita, aku dan Mbak Alfi pamit untuk pulang duluan karena takut kesorean sampai di rumah.

"Hati-hati, ya" Kata Kinara dan teman-teman rombongan kami.

"Iya.. makasih, Kinara. Cepat sembuh", kataku dan Mbak Alfi.

"Aamiin.. makasih juga sudah jenguk".

Aku dan Mbak Alfi berdiri setelah selesai memakai sepatu yang tadi kami lepas sebelum masuk ke rumah Kinara. Tiba-tiba saja terdengar suara motor berhenti di depan rumah Kinara. Rupanya Fahri dan Dilan yang datang. Aku tak menyangka jika mereka benar-benar akan menyusul kami.

"Meh ning ndi, Set?" Kata Dilan setelah menurunkan standar motornya. Yang jika ditulis dalam bahasa Indonesia artinya adalah, "Mau kemana, Set?"

Dibanding saat aku kuliah, temanku yang memanggilku "Set" memang sedikit sekali pada waktu SMA dulu. Hanya Dilan dan satu orang lagi temanku di rohis, Iqbal namanya.

"Mau pulkam", jawabku. "Gimana tadi?"

Yang kumaksud adalah urusan tabrakan saat perjalanan ke rumah Kinara tadi.

"Sudah, kok", jawabnya.

Mendengar itu aku jadi bingung harus menanggapi lagi seperti apa. Meski aku penasaran, aku memilih diam karna tampaknya Dilan memang enggan membahasnya.

Aku juga tidak tau mengapa begitu Dilan datang aku terus saja memperhatikan dirinya. Mungkin untuk memastikan apakah kepala dia memang benar-benar habis terbentur. Atau mungkin keheranan seolah kini aku sedang melihat Dilan dari sudut pandangku yang lain.

"Memang rumahmu dimana to, Set?", tanya Dilan lagi.

"Di Purwodadi. Deket rumah Mbak Alfi"

"Oh.. jadi kalian sekampung?". Tanyanya lagi.

Begitulah Dilan. Dia terbiasa menggunakan pilihan kata yang kurang enak didengar. Jika aku dan Mbak Alfi adalah orang yang mudah tersinggung, maka kami pasti sudah menganggap bahwa Dilan baru saja mengatai kami anak kampung. Tapi karna kami sudah mengenal Dilan jadi kami nggak pernah mempermasalah hal sepele seperti itu.

"Main, Lan, kerumah Setiti", kata Fahri.

"Ayo, toh!" Jawabku menanggapi.

Aku tahu itu hanya basa-basi. Akupun begitu. Dan kami mengakhiri percakapan itu dengan tertawa bersama sambil aku dan Mbak Alfi pamit pada Fahri dan Dilan.




To be continue....