Succinct Monologue

Writing, Sharing, Reading, Being Understanding

Tampilkan postingan dengan label Sharing Setiti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing Setiti. Tampilkan semua postingan

Hijrah Kedua

It’s not only a bunch of flower. It is also a full handed of love.


Tampak beberapa orang tengah berbincang di depan ruang sidang kampusku dengan bouquet-bouquet bunga yang indah dan berwarna-warni di tangan mereka. Bukan, bouquet itu bukan untukku dan mereka pun bukan sedang menungguku meski aku juga tengah melaksanakan sidang tugas akhir hari ini. Mungkin mereka sedang menunggu orang lain yang kebetulan jadwal sidangnya sama denganku.

“Ah, betapa bahagianya jika banyak teman-teman datang dan membawakan bouquet bunga di hari aku sidang”, batinku dengan mata yang menerawang jauh entah kemana. Mungkin ke masa lalu. Andaian-andaian memang selalu menjadi celah yang syaitan tidak pernah terlewat untuk memanfaatkannya. Daripada menyesali masa lalu, aku hanya menghela nafas, beristighfar..

Seperti yang ingin kukatakan, aku menempuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan kuliah sarjanaku. Bila dibanding dengan teman seangkatanku lainnya, boleh dibilang aku “terlambat lulus”. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena aku sakit dan harus cuti kuliah. Aku terkena maag cukup parah sehingga harus opname beberapa hari di rumah sakit. Setelah keluar opname, tubuhku tak secara langsung dapat pulih kembali sehingga aku membutuhkan waktu cukup lama untuk beristirahat termasuk mengisitirahatkan pikiran dari pelajaran dan tugas-tugas kuliah yang cukup berat.

Aku memulai kuliahku kembali di semester 7 yang ternyata tidaklah semudah yang kubayangkan. Aku tertinggal oleh teman seangkatanku sehingga aku harus mengambil pelajaran kuliah bersama angkatan dibawahku yang hampir tak seorangpun kukenal diantara mereka. Cukup sulit beradaptasi lagi setelah sekian lama tidak ke kampus. Tampak asing dan terasa ada yang ganjil. Ditambah lagi datang musibah-musibah lain yang tak bisa kuceritakan detailnya. Musibah-musibah tersebut seolah bertubi-tubi dan tiada habisnya.

Satu waktu aku merasa selalu bersemangat dengan menganggap bahwa semua ini adalah ujian yang harus aku hadapi agar aku “naik kelas”. Tapi tak jarang semangatku pun melemah dan aku merasa ujian ini sudah di batas kemampuanku. Hidupku yang tampak berjalan baik-baik saja sesungguhnya tidak sedang baik-baik saja. Hal itu membuatku terus-menerus berintrospeksi. Apakah mungkin pola hidup yang kujalani selama ini belum sehat? Ataukah mungkin ibadah yang kulakukan selama ini belum benar? Bahkan beberapa waktu terakhir muncul pertanyaan dalam hatiku, mungkinkah di masa lalu aku pernah melakukan dosa besar sehingga aku sedang mendapatkan ganjarannya sekarang? Entahlah. Hanya saja sebuah hadits terus terngiang dikepalaku, yang mana dikatakan bahwa musibah datang tidak lain adalah karena dosa dan kesalahan terdahulu.

Ya Rabb, bantu aku memaafkan seseorang yang sering berbuat dzalim kepadaku, dia adalah diriku sendiri.

Jika berbicara tentang hijrah, aku bisa katakan bahwa aku pernah melalui hijah pertamaku. Aku yang saat SMA dulu memakai jilbab hanya di sekolah, semenjak kuliah telah kukenakan setiap hari dan kemanapun aku pergi. Jilbabku menutup dada, aku memakai rok panjang dan pakaian longgar. Tentang ibadah, aku menjalankan shalat wajib 5 waktu, aku mengaji Al-Qur’an setiap hari. Aku telah menjadi seseorang yang lebih baik dengan berhijrah dibanding saat aku SMA dulu. Setidaknya aku kini adalah diriku yang mulai berusaha menjaga agar selalu melaksanakan apa-apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang.

Aku telah menjalani pola hidup yang sehat. Aku berusaha taat dalam ibadah dan istiqomah. Aku mengingat-ingat berbagai dosa masa lalu dan beristighfar atas dosa yang mampu kuingat maupun yang tak mampu kuingat. Namun ujian terus saja datang sehingga aku berfikir mungkinkah tanpa sengaja aku telah melakukan dosa yang sulit diampuni. Barangkali tanpa sengaja aku telah menyinggung hati orang lain, atau memakan hak orang lain, atau tak menunaikan hak orang lain atas diriku? Dan berbagai pertanyaan lain yang terus saja muncul. Hingga satu waktu aku teringat pada seorang guru ngajiku. Akupun lantas menghubungi beliau dan bertanya tentang kebimbangan karena ujian-ujian yang menimpaku ini.

Aku menceritakan semuanya dan berkata bahwa aku telah berusaha bertaubat dan beristighfar. Namun entah bagaimana hatiku terasa belum mantap dan masih ada rasa takut akan azab Allah jika ternyata dahulu aku pernah melakukan dosa tanpa sengaja dan dosa tersebut merupakan dosa yang sulit diampuni. Dan barangkali karena itulah saat ini ujian datang padaku silih berganti.

Rasa was-was dan ragu hinggap selama aku menunggu jawaban dari guruku. Antara ingin mendengar dan tidak mendengarnya. Aku takut mendengar jawaban yang tak ingin kudengar. Tapi bagaimanapun aku harus mendengar jawaban guruku demi meluruskan kebimbanganku ini.

Pelan guruku berkata, “Rasa takut dari murka Allah itu jangan pernah dihilangkan, setiap muslim memang harusnya memiliki perasaan tersebut di setiap keadaan. Karena takwa terbagi menjadi dua; yang pertama adalah rasa takut, dan yang kedua adalah selalu berharap kepada-Nya. Tinggal harapanmu kepada Allah itu jangan pernah nanggung. Kau berharap maaf dari Allah dengan husnudzon Allah telah mengabulkan semua harapan tersebut, seimbangkanlah keduanya takutmu dan harapanmu, insyaAllah kau akan menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya.”

Bak menemukan oase di tengah gurun pasir Sahara. Hatiku tersiram oleh sejuknya jawaban dari guruku. Aku mulai memahami bahwa hijrahku barangkali memang tak boleh hanya berhenti disini, di hijrah pertamaku. Bukankah pada dasarnya setiap muslim itu harus berhijrah setiap hari? Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok haruslah lebih baik dari hari ini.

Aku tersadar dari lamunanku. Masih dengan pakaian putih hitam khas baju sidang mahasiswa. 

“Alhamdulillah untuk hari ini...”, ucapku dalam hati.

Aku bersyukur atas izin Allah karena aku telah sampai pada tahap ini. Meski tak bisa dipungkiri aku memiliki kekhawatiran akan masa depan yang entah akan seperti apa. Aku hanya mencoba memantapkan hati bahwa hijrah kedua adalah jalan yang harus aku tempuh. Hijrah yang tentu akan lebih berat dari hijrah pertamaku dulu. Barangkali saja, esok atau lusa aku akan menemukan taqwa sebagai jawaban dari perjalananku. Dan apalah yang sesungguhnya dilihat oleh Allah dari hamba-Nya di dunia ini melainkan hanya dari ketaqwaannya? Maka semoga aku akan sampai pada ketaqwaanku.

Sahabat Saliha, bila saat ini kau juga sedang mengalami berbagai musibah dan ujian, yang entah seberat apa, yang entah akan sebentar atau berlangsung dalam waktu yang lama, maka semoga engkau juga bersabar. Maka semoga kesabaran itu juga yang kan menuntunmu menjadi muslimah yang bertaqwa. Semoga keraguan atas rahmat dan ampunan Allah tak pernah hinggap di hati kita. Dan semoga setiap kisah yang kita lalui dengan mengangumkan akan selalu menjadi cerita inspiratif bagi generasi kita. Dan selalu ingatlah sabda dari junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam ini,


“Ada hamba-hamba yang memiliki kedudukan di surga, tetapi amalannya tidak cukup untuk mengantarkannya kesana, maka Allah senantiasa memberinya ujian kesusahan hingga ia mencapai kedudukan itu” (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Wujud Keadilan

Beberapa waktu lalu di suatu malam saat aku sedang mengkaji kitab Fiqh Islam yang ditulis oleh H. Sulaiman Rasjid, aku sampai pada sebuah sub bab dari bab Thaharah tentang hal-hal yang membatalkan wudhu. Saat itu guru saya menerangkan, bahwa hal-hal yang membatalkan wudhu diantaranya adalah hilangnya akal, meliputi mabuk, gila, juga termasuk “ayan” (atau sering juga disebut epilepsi) –sejenis penyakit yang ketika kambuh, penderita akan mengalami kejang hebat dan hilangnya kesadaran secara penuh.

          Mendengar kata “ayan”, sebuah kejadian seakan langsung berkelebat dalam ingatanku. Saat itu aku sedang berada di tempat mbah kakung di Salatiga. Kemudian datang seorang tetangga depan rumah, laki-laki dan masih muda. Jika aku takar-takar mungkin usianya baru menginjak 20-an keatas. Kata mbah kakung dia memang sering datang untuk sekedar dolan dan berbincang-bincang. Dalam salah satu perbincangannya –aku yang berada disitu tentu tak mungkin untuk tidak mendengar- mengatakan bahwa laki-laki muda tersebut sudah pijat ke tukang urut selama tiga kali dalam sebulan ini. Kemudian ayahku yang juga berada disitu bertanya,
“Memang kerjanya apa kok sampai pijat ke tukang urut sesering itu?”

Laki-laki muda itu hanya menatap ayahku sambil tersenyum tanpa menjawab apa-apa. Lantas ayahku bertanya lagi, “Apa tiap hari nyangkul di sawah?”

Dan lagi-lagi pemuda itu tak menjawab apapun, dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

          Kemudian, setelah cukup lama berada di tempat mbah kakung akhirnya pemuda itu pamit untuk pulang. Dan saat mbah kakung kembali duduk di kursinya, akupun memberanikan diri untuk bertanya, “sebenarnya orang tadi kenapa mbah kakung? Kok sampai sesering itu ke tukang urut? Dan lagi, dia masih semuda itu tapi sudah jadi pengangguran. Enggak sekolah enggak juga bekerja, padahal dikaruniai fisik sempurna”

          Lantas mbah kakung menjawab, “Dia itu sebenarnya punya sakit ‘ayan’. Dia dulu sekolah, tapi hanya sampai kelas 6 SD. Dia takut kalau sewaktu-waktu sakitnya kambuh, makanya nggak mau ngelanjutin sekolah. Akhirnya kerjaannya ya dirumah saja karena memang tidak boleh kerja sama ibunya. Dan dulu kakaknya yang juga sakit ayan sudah meninggal karena saat kambuh dia jatuh ke api terus terbakar, mungkin ibunya takut kalau hal tersebut akan terjadi juga pada anaknya yang ini. Nah, masalah sering ke tukang urut itu, dia merasa frekuensi kambuh sakitnya jadi berkurang jika dia rutin mengurut badannya.”

***

          Sejenak aku tersadar sebelum akhirnya guruku akan melanjutkan materi fiqh ke sub bab selanjutnya. Maka sebelum itu, segera akupun bertanya terkait seseorang yang ditakdirkan sakit “ayan” dengan mengawalinya dari cerita saat berada di tempat mbah kakung. Setelah cerita selesai, aku berkata…
“Mungkin memang benar sudah menjadi takdirnya untuk memiliki penyakit seperti itu. Tapi rasanya betapa kasihan saat aku membayangkan dia harus berhenti sekolah, tidak bisa bekerja, dan seterusnya hanya teronggok dirumah. Pasti membosankan. Sementara banyak orang bisa hidup dengan normalnya, menghadapi masalah lantas menyelesaikannya, menaikkan derajat diri, mengukir prestasi, bahkan menantang dunia. Alangkah tidak adil sepertinya. Tapi sayangnya, setidak adil apapun kita merasa, Allah tetaplah Maha Adil terhadap setiap takdir yang telah ditetapkan-Nya”

          Jauh dalam benakku, sebenarnya aku terpikir, mungkin saja nasehat ini yang sedang berlaku untuk pemuda itu, bahwasannya, Rasulullah bersabda, “Ada hamba-hamba yang memiliki kedudukan di surga, tetapi amalannya tidak cukup untuk mengantarkannya ke sana, maka Allah senantiasa memberinya ujian kesusahan hingga ia mencapai kedudukan itu." (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Di sela-sela kajian, kami memang sering membahas hal-hal yang terkadang diluar topic seperti sekarang. Juga terkadang saling bertukar pengalaman yang kurasa sangat bisa memperkaya wawasan. Seperti pepatah mengatakan, “kenapa kita harus belajar dari pengalaman orang lain? Sebab kita tidak akan punya cukup waktu dalam hidup untuk mengalami semuanya sendirian”

Setelah mendengar semua ceritaku, guruku pun memberi jawaban, “Ohh.. iya, saya mengerti maksud kamu. Tapi sekarang coba saya tanya, adil itu apa?”

“Adil itu.. membagi sama rata. Eh, iya bukan ya?” kataku ragu-ragu.

Guruku lantas tersenyum dan membenarkan jawabanku, “Adil itu… menempatkan sesuatu pada tempatnya. Nah, menempatkan sesuatu pada tempatnya itu bukan berarti harus sama semua. Misal, bagaimana kalau semua orang jadi PNS? Bagaimana kalau semua orang kaya raya? Pasti dunia ini tidak akan bisa berjalan kan? Bukan berarti orang yang lebih kekurangan dari kita itu tidak bahagia hidupnya, bisa jadi kita yang berkecukupan justru tidak lebih bahagia dari mereka yang kekurangan. Semuanya pasti sudah diatur secara adil meskipun tidak semuanya bisa kita lihat wujud keadilannya”

          Semua yang dikatakan guruku memang benar. Tapi sebenarnya, tidak aku pungkiri bahwa sebelum ini aku juga pernah merasa seperti dalam sebuah ketidak adilan. Saat aku sakit dan harus cuti kuliah. Dimana aku merasa sangat sedih karena cuti itu tentu akan menunda kelulusanku. Dan jika kelulusanku tertunda, terus kapan aku mau menik…. (halah, skip..skip!). Dan setelah kembalinya aku ke  perkuliahan, akupun harus belajar tanpa teman-teman seangkatan karena mereka telah terlebih dulu menyelesaikan semuanya. Kemudian kembali aku juga harus menyesuaikan kelas bersama orang-orang yang belum begitu kukenal, yakni adik angkatanku. Terlebih jika nanti ada yang akan melihatku dengan tatapan rendah karena ketertinggalanku ini. Betapa pasti terasa sangat sulit untuk menjalani semuanya. (Nah..nah.. ini adalah contoh dari rasa takut yang mengada-ada. Jangan ditiru hehe)

          Tapi seiring berjalannya waktu, setelah aku mulai bisa menerima bahwa mungkin memang jalannya harus seperti ini, aku mulai bisa bersahabat dengan keadaan. Toh kita memang tidak bisa memilih takdir kita sekarang ataupun akan seperti apa takdir kita nanti. Sebab ia sudah menjadi harga mati. Tapi meskipun ia harga mati, kita tetap diberi kewenangan untuk membayar harga mati itu dengan "cara kita masing-masing". Yang pasti, telah datang seorang utusan yang menyampaikan kabar gembira pada umatnya, bahwa setiap takdir yang menimpa mereka adalah BAIK. Jika mereka diberi nikmat, mereka bersyukur. Dan bila ditimpa musibah, maka tiadalah sikap yang lebih baik selain daripada bersabar (cieee.. is-ti-mewa!)

  Hingga akhirnya… banyak sekali hal, banyak sekali pengalaman, juga pelajaran hidup yang kudapat selama aku cuti kuliah, yang mungkin tidak akan bisa aku dapat andai aku masih tersibukkan dengan rutinitas perkuliahan. Aku mulai bisa menghargai hal-hal yang dulu tampak tak berharga. Kesehatan misalnya, bagaimana tidak? untuk kembali menjadi sehat seperti ini, berpuluh-puluh juta harus orang tuaku keluarkan. Berbulan-bulan waktu juga harus mereka luangkan hanya untuk merawatku agar kembali sehat seperti sekarang. Dan selain itu, akhirnya aku bisa mentertawai hal-hal yang saat aku kuliah dulu, entah kenapa rasanya tak lucu tapi sekarang bisa membuatku tertawa dengan ikhlas. Sebagai misal saat aku menonton adegan dalam film 3 Idiots dimana Rancho menulis kata “Prerajulation” dan “Farhanitrate”. Atau saat adegan dimana seorang dosen sedang mengajar perkuliahan tentang mesin. Justru anehnya, semua itu tampak lucu setelah aku menonton untuk yang kesekian kalinya.

  Yah, jika teringat tentang cuti kuliah, rasa kecewa pasti selalu ada. Tapi mau bagaimana lagi, semua tetap berjalan, harus dijalani.. sebab waktu tiada pernah mau tahu, dia tetap berlalu membawa cerita baru, membawa permasalahan-permasalahan yang baru. Dan jika hidup ini memanglah medan ujian. Maka hanya kesabaran yang dapat menuntun kemenangan di pertempuran (mangatssss!)

  Pada intinya, mungkin saja keadilan bagi pemuda yang sebelumnya aku ceritakan itu karena Allah hendak menyampaikan ia pada kedudukannya yang pantas di surga dengan ujian sakit yang sedemikian rupa. Sedang aku.. rasanya aku mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin nyaris sama dengan apa yang didapat Raju setelah ia mencoba bunuh diri karena hendak di DO dari kampus. Sesuatu yang mungkin memang adil dan pantas untuk dibayar dengan harga sebuah cuti kuliah.

Keadilan bagi setiap orang itu tampak dalam wujud yang berbeda-beda, bahwa adil itu... memang tidaklah selalu berarti sama rata. Misal saja dalam rupa kekayaan…
Sebab kekayaan bagi mereka yang sakit adalah kesehatan, bukan melimpahnya harta.
Sebab kekayaan bagi mereka yang mandul adalah seorang keturunan, bukan emas, intan, maupun berlian.
Sebab kekayaan bagi mereka yang sebatangkara adalah sebuah keluarga, bukan istana yang megah lagi besar pilar-pilarnya.